Back

Menelusuri Jejak Sosiologis dan Kritis di Balik Makanan Lewat Relasi Kuali

Di atas meja makan, piring dan mangkuk tidak sekadar menyajikan pemuas dahaga atau pengganjal perut. Dari sebutir beras ketan yang diolah menjadi rangginang hingga segelas susu murni yang pernah dianggap tabu, terdapat jalinan sejarah, relasi kuasa, dan tatanan politik pangan yang kompleks.

Perspektif mikro sosiologis inilah yang coba dirangkai oleh komunitas dan platform publikasi alternatif, Relasi Kuali, bagian dari anak usaha Effington Media. Melalui peluncuran buku saku (pocketbook) edisi pertamanya bertajuk Kisah-kisah di Atas Meja Makan dan Celoteh Kehidupan, mereka berupaya merebut kembali narasi pangan yang kerap didominasi kapitalisme dan pemilik modal besar.

Dalam sesi diskusi virtual bertajuk Bicara Passion #8, Rabu (19/8/2026) redaksi Relasi Kuali membedah beragam fenomena pangan dari kacamata kritis hingga romantisme keseharian.

Politik Pangan: Antara Food Estate dan Kemandirian Family Farming

Diskusi menjadi hangat ketika menguliti isu kebijakan pangan nasional. Ainin Latifah, salah satu penulis dan bagian dari tim redaksi Relasi Kuali, menyoroti bagaimana wacana food estate skala besar yang digulirkan pemerintah sering kali mengulang kegagalan masa lalu sekaligus mengabaikan kearifan lokal.

Menurut Ainin, proyek food estate kerap berorientasi pada economy of scale semata, namun sarat risiko kegagalan ekologis dan pelanggaran hak masyarakat adat. Pengalaman pembukaan lahan di Papua, misalnya, dinilai mengabaikan fungsi hutan sebagai ruang hidup, obat-obatan, dan identitas budaya lokal. Alih-alih menyejahterakan, warga lokal justru berpotensi hanya menjadi buruh di tanah mereka sendiri.

“Kemandirian pangan sejati sebenarnya berakar dari family farming atau pertanian keluarga yang berorientasi pada komunitas lokal dan pola interaksi saling menopang. Bukan melalui proyek megah yang memusatkan pengelolaan tanah pada satu entitas modal besar,” tegas Ainin.

Selain isu ekologis, ia juga menyoroti jeratan finansial berupa pinjaman berbasis kredit yang sering tidak dipahami oleh para petani gurem di pedesaan, yang akhirnya justru menjauhkan generasi muda dari dunia pertanian.

Dari Emas Hitam Kolonial hingga “Serbuan” Wisata Kekinian

Penulis dan periset sejarah asal Lembang, Malia Nur Alifa, menyumbang dua tulisan berbasis riset historiografi panjang dalam antologi ini. Lewat risetnya sejak 2009 hingga 2022, Malia menguak asal-usul Lembang sebagai sentra sayur dan susu di Jawa Barat.

Malia mencatat, Lembang pada abad ke-19 merupakan kawasan perkebunan kopi yang menopang kas kolonial Belanda usai Perang Jawa (Cultuurstelsel). Baru pada Oktober 1899, melalui program Koloni Surya Sumirat, pemerintah kolonial membawa 11 keluarga dari Semarang dan Cirebon untuk membuka lahan sayur-sayuran Eropa seperti wortel, kol, dan buncis yang sebelumnya asing bagi warga lokal yang mengonsumsi umbi-umbian (bebetian).

“Susu murni pun punya riwayatnya sendiri. Pada abad ke-17 dan 18, masyarakat pribumi menganggap susu sebagai ‘darah putih’ yang tabu untuk dikonsumsi. Butuh perjalanan riset dan silang bibit sapi dari Freisland hingga Australia untuk membentuk industri susu seperti sekarang,” jelas Malia.

Namun, ia menyayangkan tatanan agraria historis ini kini mulai tergerus oleh alih fungsi lahan masif menjadi kawasan pariwisata kekinian dan homestay. Lahan pertanian sayur yang produktif kian terdesak demi pemenuhan kepuasan estetika dan hiburan sesaat para pelancong.

Menggugat Relasi Kuasa Lewat Buku Saku

Guna menjangkau publik yang lebih luas,Foggy FF selaku perwakilan Effington Media dan pendiri Relasi Kuali menyampaikan bahwa penerbitan dalam format buku saku (pocketbook) bertujuan untuk memasyarakatkan kembali budaya membaca di ruang-ruang publik.

Nama “Relasi Kuali” sendiri merupakan plesetan satir dari jargon “Relasi Kuasa”. Lewat platform web (⁠relasikuali.com⁠) dan seri buku berkala yang diterbitkan tiap tiga bulan, Relasi Kuali ingin mengajak masyarakat melihat makanan tidak sebatas cita rasa atau promosi komersial UMKM, melainkan sebagai kacamata untuk melihat persoalan makro yang berkeadilan.

“Satu piring makanan membawa filosofi: dari mana alur keterjaminan pangan berasal, siapa yang menanamnya, hingga bagaimana tatanan sosiologis di baliknya. Kami ingin menyajikan edukasi dan kritik dengan gaya penceritaan yang naratif agar mudah dicerna publik,” ungkap Foggy.

Melalui narasi-narasi mikro yang personal, seperti tradisi menyangrai kopi di halaman rumah atau memori rangginang di dalam kaleng biskuit bermerek, Relasi Kuali berupaya merawat kesadaran kritis sekaligus rasa syukur atas tiap suapan makanan yang hadir di meja makan kita hari ini. (tiwi)

Sumber PASJABAR / Tiwi Kasavela

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *