Back

Arundhati Roy Si Lensa dan Belati: Bagaimana Membedah Anatomi Esai Karyanya

Siapa tak kenal Arundhati Roy?

Arundhati Roy adalah salah satu contoh terbaik bagaimana seorang sastrawan fiksi bisa bertransformasi menjadi salah satu esais politik paling ditakuti sekaligus dikagumi dunia. Setelah mengguncang dunia sastra lewat novelnya The God of Small Things (1997), ia sengaja “keluar” dari zona sastra untuk menulis esai di garis depan perjuangan aktivisme.

Coba kamu bayangkan ini, ketika novelmu memenangkan Booker Prize, dan dunia sastra global bersujud di kakimu. Profesi prestise sebagai penulis kaliber dunia mutlak dalam genggamanmu. Tapi apa yang justru malah Roy lakukan, adalah banting setir turun ke jalan penuh liku, merilis esai-esai politik yang membuat para penguasa dan korporasi raksasa kegerahan.

Buat kita-kita yang hobi menuliskan keresahan dalam bentuk esai, gaya bertutur Roy adalah salah satu teknik terbaik yang bisa direplikasi. Rahasia daya ledaknya tidak semata-mata terletak pada pemilihan diksi, kosa kata, melainkan pada cara ia memandang dunia dari lensa tulisannya yang tak biasa.

Pertama, perhatikan bagaimana ia memainkan skala lensa. Roy bukan penulis yang mabuk teori, dan mengatasnamakan dirinya sebagai seorang akademisi. Ia konsisten meminjam mata seorang novelis. Di awal esai, ia akan melakukan zoom-in dengan cukup tajam hingga ke skala terdekat. Ia mengajak kita melihat lumpur pekat di Lembah Narmada, mencium bau amis air sungai, atau menatap kerutan putus asa wajah seorang perempuan Adivasi yang tanah leluhurnya akan ditenggelamkan demi proyek bendungan. Kita dipaksa peduli.

Begitu emosi kita terikat dengan manusia di dalamnya, bingo! Ia menarik lensanya dan melakukan zoom-out, memaksa kita untuk melihat hal kecil itu dalam kacamata global. Tiba-tiba, kita tidak lagi bicara soal satu perempuan malang, tapi soal kejamnya kebijakan Bank Dunia, kapitalisme yang mencekik kaum proletar, dan orang-orang berdasi di Washington atau New Delhi yang meneken surat kematian atas tanah-tanah yang mereka kooptasi. Roy menelanjangi hal-hal yang sifatnya struktural dan memperlihatkan dampak berdarah-darahnya pada manusia di akar rumput.

Kedua, gaya bahasanya adalah perkawinan antara puisi dan ketajaman sebuah argumentasi. Kalimat-kalimat Roy sangat liris, ritmis, dan seindah karya sastra murni, namun substansinya meninju ulu hati—sebuah poetic indignation. Saat membedah invasi pasca-9/11 dalam The Algebra of Infinite Justice, ia tak menyoal analisis militer yang banyak bertebaran di media-media. Sebagai gantinya, ia menggunakan metafora yang memiliki napas persis makhluk hidup, menjabarkan bagaimana nyawa manusia dan “keadilan” dihitung dengan matematis oleh negara adidaya untuk melegitimasi hancurnya sebuah bangsa. Ia membangun ketegangan yang bergerak pelan di setiap paragraf, menumpuknya, lalu menjatuhkan satu kalimat kesimpulan yang menohok nurani kita lewat pertanyaan. 

Esai-esai di sini menunjukkan bagaimana nasionalisme buta sering kali digunakan oleh pemerintah untuk membungkam kritik rakyat atas penindasan domestik. 

Dalam artikel ekologis misalnya, ini semata adalah cara Roy menyusun data lingkungan dan ekonomi ke dalam sebuah narasi kemanusiaan yang menggugah, sehingga pembaca awam pun paham isu amdal yang rumit. 

Terakhir yang khas dari seorang Arundhati roy, ia tak membuat kerangka esai kaku lewat “Tesis-Argumen-Kesimpulan”. Struktur tulisan Roy adalah siklus penyelidikan komprehensif. Ia biasa membuka tulisannya dengan reportase lapangan, menempatkan dirinya sebagai saksi mata—berjalan berdampingan dengan mereka yang disingkirkan oleh sistem. Di pertengahan esai, baru ia melempar angka, data anggaran, amdal, dan dokumen sejarah. Benturan antara narasi kemanusiaan yang dekat dengan semua orang dan kejamnya data statistik dalam struktur kekuasaan inilah yang membuat argumennya mustahil dibantah.

Dan perhatikan bagaimana ia mengakhiri tulisannya. Lewat karya seperti Azadi, di mana ia membongkar habis-habisan kata “kebebasan” dari kacamata fasisme dan linguistik. Roy tidak menyodorkan solusi kebijakan secara artifisial. Ia lebih suka menutup esainya dengan perenungan. Arundhati Roy memaksa kita berpikir tentang apa artinya menjadi manusia yang punya hati di tengah sistem yang laku lampahnya seperti monster mekanistis.

Menulis esai ala Arundhati Roy, adalah merangkai kalimat dengan teknik menyulam kata demi memenangkan sebuah argumen. Ini soal keberanian meletakkan empati di barisan paling depan, lalu membiarkan kemarahan analitis menuntun keahlian storytelling kita menyelesaikan sisanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *