Back

Tipe-Tipe Penulis Kreatif Menurut Caranya Menulis

Dunia kepenulisan kreatif memang tak baku dan tak selalu kaku, sebuah teknik yang dianggap puritan bagi setiap penulis dalam menuangkan setiap ide di kepalanya. Namun bagi banyak penulis, baik pemula maupun profesional, pertanyaan paling memancing animo menulis bukanlah mempertanyakan soal apa yang harus ditulis, melainkan “bagaimanakah cara aku memulainya?”.

Apakah kamu tipe orang yang harus membuat skema terperinci sebelum bekerja, dan harus selalu menuliskan to do list sebelum memulai sesuatu? 

Atau bisa jadi kamu adalah tipe orang spontan, yang bahkan membiarkan GPS mengarahkan kamu ke sebuah petualangan tak terduga.

Dalam teori kepenulisan kreatif modern, perbedaan mendasar dalam metode pengembangan plot dan tingkat persiapan sebelum menulis naskah melahirkan tiga tipe penulis: Plotter, Pantser, dan apa yang menjadi gabungan dari keduanya yaitu: Plantser.

1. Plotter (Penulis Arsitek)

Karakter penulis Plotter: Terencana, sistematis, dan analitis.

Plotter sering dikaitkan dengan arsitek dalam dunia kepenulisan. Sebelum menuliskan paragraf pertamanya, seorang plotter akan menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membuat cetak biru (blueprint) yang rumit.

Dari mulai outline tulisan, peta karakter, kalender kepenulisan, hingga kontrak tertulis dengan dirinya sendiri (guilty pleasures yang banyak penulis sembunyikan).

Ciri Khas Plotter:

  • Outline Terperinci: Seorang Plotter, biasanya menulis dengan kerangka cerita yang sangat detail, tak jarang ia menulis setiap adegan ke adegan, dengan detail. Dari mulai identitas karakter, usia setiap tokoh, hingga kostum yang dikenakan di setiap adegan. Tak aneh, apabila seorang Plotter bahkan membuat peta worldbuilding, dunia imajinasi yang ia bangun dalam naskahnya.
  • Penyelesaian Masalah di Awal: Plotter menentukan titik balik (turning points), klimaks, dan busur karakter (character arcs) secara matang sebelum menulis naskah utama. Ia membuat skema tulisan terlebih dahulu, sebelum jauh menjabarkan setiap bab yang sudah dirancangnya.
  • Tertib: Alur kerja Plotter terstruktur dan dapat diprediksi. Jangan aneh juga, kalau seorang Plotter bisa tahu, kapan mereka selesai menulis. Karena biasanya, Plotter menggunakan kalender (timeline) dalam menulis.

Kelebihan Plotter:

  • Minim Plot Hole: Karena alur sudah diuji di kepala/kertas outline, celah cerita jarang terjadi.
  • Kecepatan Menulis Stabil: Plotter jarang mengalami writer’s block struktural karena mereka selalu tahu apa yang terjadi selanjutnya.
  • Memudahkan mencapai target kata atau deadline karena arah cerita sudah jelas.

Contoh Penulis Plotter & Teorinya:

  • J.K. Rowling (Serial Harry Potter): Rowling terkenal karena membuat grid outline rapi yang merinci setiap alur cerita utama dan subplot untuk setiap bab sebelum mulai menulis buku Harry Potter.
  • Jessica Brody (Teori Beat Sheet): Dalam bukunya Save the Cat! Writes a Novel, Brody menggunakan pendekatan Plotter tulen. Ia mengodifikasi struktur cerita menjadi 15-pilar (beat sheet) wajib yang harus dipenuhi penulis di titik-titik tertentu dalam naskah agar cerita terasa memuaskan. Bagi Brody, kerangka adalah fondasi kreativitas, bukan pembatas.

2. Pantser (Penulis Spontan)

Karakter Penulis Pantser: Spontan, mengalir, dan intuitif.

Nama “Pantser” berasal dari istilah bahasa Inggris “fly by the seat of their pants” (terbang mengandalkan insting). Seorang penulis pantser mulai menulis hanya dengan modal ide dasar atau satu karakter yang menarik, lalu membiarkan cerita berkembang secara alami.

Ciri Khas Pantser:

  • Penemuan Alur: Alur cerita ditemukan saat mereka menulis, bukan direncanakan sebelumnya. Jadi, biasanya para penulis pantser duduk sambil mengembangkan ide di kepalanya, tanpa harus repot menulis kerangka terlebih dahulu.
  • Fokus pada Karakter: Seringkali karakter utama yang sudah ia pilih di kepalanya, menuntun penulis ke arah yang tidak terduga.
  • Adaptif: Merasa terkekang jika harus mengikuti kerangka yang kaku.

Kelebihan Pantser:

  • Proses menulis sangat mengalir: Menulis terasa seperti petualangan yang seru bahkan bagi sang penulis sendiri. Biasanya penulis pantser, menjadikan pengalaman menulis sebagai sesuatu yang membebaskkan dirinya, dan bersifat teurapetik.
  • Penuh Kejutan: Kejadian yang tidak terencana seringkali melahirkan ide-ide paling cemerlang dan original. Penulis bebas mengubah jalan cerita, baik itu di awal, di tengah, maupun di akhir cerita.
  • Imajinasi Tanpa Batas: Memberikan kebebasan mutlak tanpa takut salah sejak rencana awal. Menulis adalah membebaskan diri, dari belenggu keterikatan terhadap perencanaan. Biasanya, penulis pantser menulis tanpa target waktu, ia hanya akan menulis dengan ritme yang nyaman untuk dirinya.

Contoh Penulis Pantser & Teorinya:

  • Stephen King (Teori Fosil): Dalam buku legendarisnya, On Writing: A Memoir of the Craft, King dikenal sebagai ikon aliran Pantser (ia menyebutnya discovery writer). King berteori bahwa cerita adalah sebuah “fosil yang sudah ada di dalam tanah”. Tugas penulis bukanlah menciptakan cetak biru (plotting), melainkan menggalinya secara perlahan dengan alat-alat kepenulisan dan melihat bentuk aslinya tanpa prasangka.
  • George R.R. Martin (Analogi Tukang Kebun): Penulis serial Game of Thrones ini memopulerkan analogi paling terkenal: Arsitek vs. Tukang Kebun. Bagi Martin, seorang Gardeners (Tukang Kebun/Pantser) menanam benih (ide) dan melihat bagaimana tanaman itu akan tumbuh secara alami, menyiram dan merawatnya tanpa tahu persis berapa banyak cabang yang akan tumbuh.

3. Plantser (Penulis Hybrid)

Karakter penulis Plantser: Kombinasi (Hybrid) yang fleksibel.

Plantser adalah gaya kepenulisan yang paling umum diterapkan. Ini adalah kombinasi dari kedua gaya yang telah dipaparkan tadi, mengambil struktur Plotter namun mempertahankan kebebasan Pantser.

Ciri Khas Penulis Plantser:

  • Kerangka Dasar: Menulis dengan membuat rencana dasar (garis besar cerita) secukupnya. Mereka biasanya tahu titik awal (Introduction), titik tengah (Midpoint), dan akhir cerita (Climax), namun mengeksplorasi jalan tengahnya sambil menulis.
  • Struktur Tanpa Pengekangan: Kerangka digunakan sebagai panduan, bukan aturan kaku.

Kelebihan penulis Plantser:

  • Struktur Tulisannya Aman: Mendapatkan struktur yang solid sehingga ide cerita tidak “tersesat” terlalu jauh dari apa yang sudah ia plot.
  • Ruang Kreativitas: Tetap memberikan ruang imajinasi untuk mengubah nasib karakter atau kejadian jika ide yang lebih baik muncul di tengah jalan.
  • Fleksibilitas Tinggi: Cocok untuk penulis yang butuh rasa aman namun ingin tetap merasa bebas.

Penulis dan Teori Terkait Plantser:

  • James Scott Bell (Teori Garis Besar vs Non-Garis Besar): Pelatih penulis terkenal Amerika ini mengodifikasi perbedaan ini dengan membaginya menjadi kelompok Outline People dan Non-Outline People. Namun, Bell juga menekankan dalam panduannya (seperti Plot & Structure) bahwa “struktur” tidak sama dengan “garis besar terperinci.” Seorang Plantser menggunakan struktur dasar Bell (seperti LOCK System) sebagai tiang penyangga, namun menulis keseluruhan cerita secara spontan.

Kesimpulan: Mana yang Terbaik?

Gaya kepenulisan ini bukanlah aturan kaku yang bersifat mengikat. Banyak penulis pemula hingga profesional yang mengeksplorasi dan menggabungkan gaya ini sesuai dengan proyek buku yang sedang mereka kerjakan.

Kuncinya adalah mengenali diri kamu. Cobalah membuat outline untuk satu cerita, lalu cobalah menulis cerita lain tanpa rencana sama sekali. Lihat mana yang membuat kamu merasa paling nyaman dan produktif.

Apakah kamu seorang Arsitek yang membutuhkan cetak biru, seorang Tukang Kebun yang ingin melihat benih tumbuh, atau seorang Plantser yang membawa peta namun siap menjelajahi jalan pintas? Semua jalan valid, asalkan kamu terus menulis dan menyelesaikan karya kamu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *